Selasa, 08 Mei 2018

Perjalanan Dolar AS, Terus Menguat Hingga Tembus Rp 14.000



PT BESTPROFITPenguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) semakin menjadi-jadi. Kemarin bahkan dolar AS sudah tembus Rp 14.000.

Kondisi ini cukup menghebohkan. Berita tentang tembusnya dolar AS hingga Rp 14.000 menarik banyak pembaca detikFinanceBESTPROFIT

Bagaimana tidak, mata uang garuda, rupiah, terbilang cukup lama terombang-ambing yang disebabkan amukan dolar AS. Apa yang menjadi kekhawatiran pun terjadi, dolar AS tembus Rp 14.000, meskipun masih jauh dari batas stress test Rp 20.000 seperti yang dibocorkan OJK. BEST PROFIT
Meski begitu, pemerintah masih menanggapi santai pelemahan lanjutan Rupiah. Kondisi sebaliknya juga terjadi di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menguat setelah sebelumnya dalam tren pelemahan cukup panjang.


Pada Kamis lalu 3 Mei 2018, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah merangkak naik dari level terendahnya di Rp 13.940. Penguatan dolar AS terjadi belakangan dikarenakan sentimen eksternal seperti membaiknya ekonomi AS dan sinyal kenaikan suku bunga acuan AS The Fed.

Pelemahan pun berlanjut hingga Senin 7 Mei 2018. Pada siang hari dolar AS semakin melemah dari posisi Rp 13.935 menuju Rp 13.960. Menjelang sore dolar AS sudah tembus ke level Rp 13.995.

Saat memasuki senja, dolar AS pun tembus level Rp 14.000, tepatnya Rp 14.001 seperti dikuti dari Reuters. Ini merupakan level tertinggi dolar AS di sepanjang 2018.


Penguatan dolar AS hingga tembus Rp 14.000 sepertinya tidak membuat pemerintah khawatir. Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution bahkan mengatakan kondisi pelemahan rupiah terhadap dolar tidak perlu dikhawatirkan. 

"Kurs kan sebenarnya belum masih bergerak lah dan itu sama-sama juga dengan yang lain kita nggak sendirian jangan dilihat sesuatu yang eneh dan mengkhawatirkan. Memang dia tembus tapi memang mestinya tidak berarti akan bertahan di angka itu," kata dia di Gedung Ali Wardhana, Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi, Senin (7/5/2018).

Darmin juga yakin, pihak Bank Indonesia (BI) selaku penjaga moneter tengah mempersiapkan langkah strategis untuk mengatasi pelemahan rupiah saat ini. Salah satunya dengan menaikan suku bunga acuan BI 7 days repo rate.

Mesk begitu, Darmin mengakui dampak kenaikan suku bunga acuan akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan kredit di dalam negeri. Namun di sisi lain, dengan naiknya suku bunga acuan di dalam negeri bisa meredam penguaran dolar AS.

"Lho memang pada situasi fluktuasi, ya pilihannya satu dari dua. Nggak bisa dua duanya mempertahankan angka ini atau mempertahankan kurs yaa tidak bisa dua duanya dan sebenarnya kan, pertumbuhan ekonomi kita memang tidak terlalu bagus. Tapi jangan lupa pertumbuhan ekonomi di kwartal 1 cenderung sedikit lebih rendah dibanding sesudahnya," papar dia.


Pelemahan Rupiah sepertinya tidak mempengaruhi pasar modal. Meski tembusnya dolar AS di Rp 14.000 terjadi pada sore hari setelah perdagangan tutup, namun tren pelemahan Rupiah sudah terjadi sejak siang hari kemarin.

Menutup perdagangan saham kemarin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak ke zona hijau. IHSG ditutup di level 5.885,098 (1,60%) naik dari posisi kemarin sore di level 5.814,956.

Meski naik cukup agresif, namun IHSG belum bisa kembali ke level 6.000.

Pada perdagangan preopening, IHSG bertambah 22,611 poin (0,39%) ke level 5.814,956. Indeks LQ45 juga ikut naik 5,6709 poin (0,62%) ke level 925,793.

Membuka perdagangan, Senin (7/5/2018) IHSG naik 29,113 poin (0,50%) ke level 5.821,458. Indeks LQ45 naik 6,927 pin (0,68%) ke level 926,420.

Pada pukul 09.05 waktu JATS, IHSG semakin menguat dengan kenaikan 37,460 poin (0,65%) ke 5.829,805. Indeks LQ45 naik 8,076 poin (0,88%) ke 928,199.

Laju penguatan masih berlanjut hingga jeda perdagangan siang ini. IHSG naik 49,060 poin (0,85%) ke 5.841,405. Indeks LQ45 juga naik 11,171 poin (1,21%) ke 931,294.

Posisi tertinggi yang sempat dicatatkan IHSG berada di 5.885,098 dan terendah di 5.808,189. Laju IHSG terpantau cukup moderat dengan frekuensi perdagangan 404.603 kali transaksi sebanyak 10,1 miliar lembar saham senilai Rp 7,4 triliun.

Sembilan sektor saham kompak menguat. Penguatan paling tinggi dialami sektor consumer goods yagn naik sebesar 5,09% diikuti manufaktur 2,90%, pertambangan 1,37%, hingga sektor perdagangan yang naik tipis 0,05%.

Sementara itu, tiga indeks utama bursa AS kompak ditutup dalam zona hijau pada perdagangan akhir pekan kemarin. Indeks Dow Jones naik 1.39% ke level 24,262.51, S&P menguat 1.28% ke level 2,663.42, dan Nasdaq terangkat 1.71% ke level 7,209.62.


Sumber : Detik



Tidak ada komentar:

Posting Komentar