Selasa, 23 Oktober 2018

Perjuangan dan Jumlah Harta Pendiri Go-Jek, Tokopedia, dkk


BEST PROFIT  - Go-Jek, Tokopedia, BukaLapak dan Tokopedia disebut sebagai startup yang berstatus unicorn asal Indonesia. Istilah unicorn merujuk pada startup yang valuasi atau nilai perusahaan sudah menembus USD 1 miliar atau lebih.

Tentu bukan perkara gampang bagi para pendirinya berjuang untuk membuat startup buatannya bisa populer dan sebesar sekarang. Serta menjadikan mereka masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia. BESTPROFIT


Berikut ini adalah sekelumit kisah perjuangan keras dan perkiraan harta kekayaan para pendiri Go-Jek, Tokopedia, BukaLapak serta Traveloka. PT BESTPROFIT

Salah satu majalah bisnis di Asia belum lama ini merilis daftar 150 orang terkaya di Indonesia. Di dalamnya, terselip salah satu sosok di dunia teknologi dalam negeri. Ia adalah Nadiem Makarim.

Berdasarkan laporan Globe Asia, pria berdarah Arab itu memiliki kekayaan senilai USD 100 juta. Hal ini membuatnya sukses bertengger di urutan 150 dalam daftar tokoh-tokoh terkaya di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, Nadiem merupakan pendiri sekaligus CEO dari Go-Jek. Startup itu juga yang mengantarkannya meraup kekayaan triliunan rupiah. Tentunya, pencapaiannya itu tak serta merta didapatnya secara instan.

Semua bermula saat ia kembali ke Indonesia setelah menuntaskan pendidikannya di Brown University, sebuah kampus di Rhode Island, Amerika Serikat, yang dilanjutkan kuliah pasca sarjana di Harvard Business School dan meraih gelar Master of Business Administration. Patut diingat, ia tak langsung mendirikan Go-Jek saat kembali ke Tanah Air.

Pada saat itu, Nadiem sempat bekerja sebagai konsultan. Kemudian, pada 2011, barulah ia merintis sebuah start up bernama Go-Jek. Di masa-masa awalnya, layanan tersebut yang memanfaatkan fitur SMS pada ponsel. Lalu, Go-Jek mulai mendapat perhatian besar sejak peluncuran aplikasinya di ponsel Android dan iOS pada awal 2015.

Kegemarannya menggunakan layanan ojek untuk menembus kemacetan Jakarta memancing terbersitnya ide agar memudahkan penumpang dan pengojek terhubung dalam aplikasi smartphone. Selain itu, menurutnya, Go-Jek bertujuan untuk mendorong sektor informal seperti ojek yang tadinya bekerja serabutan dengan pendapatan tak menentu bisa beroperasi secara profesional dan berpenghasilan lebih baik.

"Kami di sini berusaha untuk menawarkan solusi lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan pekerjaan. Dimana mereka yang hanya punya motor, punya smartphone, dan berkemauan keras bisa bekerja," ujarnya saat dulu meluncurkan aplikasi Go-Jek.

"Kami juga berusaha untuk mensejahterakan tukang ojek yang mungkin selama ini penghasilannya tidak seberapa dengan memberikan pendapatan tambahan yang didapat dari Go-Jek Indonesia ini," tambahnya.

"Dengan Go-Jek, para pengemudi ojek ini setidaknya lebih produktif karena mereka tidak hanya membawa penumpang saja, tetapi juga membantu berbelanja dan juga mengirimkan paket yang mana itu semua bisa menambah pendapatannya," ungkap Nadiem.

Dari situ, Go-Jek pun cepat melesat sampai sekarang. Status unicorn, atau valuasi USD 1 miliar, pun sudah diraihnya. Bahkan, kini platform tersebut sudah mulai merambah ke luar negeri, salah satunya adalah Vietnam.

Mengusung nama Go-Viet, jelmaan Go-Jek itu pun sukses bersaing dengan Grab yang sudah lebih dulu beroperasi di sana. Menarik untuk ditunggu kiprah selanjutnya dari Nadiem dan Go-Jek selanjutnya, baik di Indonesia maupun luar negeri.

Achmad Zaky memang gemilang. Di usianya yang baru 31 tahun, dia sukses membesarkan BukaLapak menjadi salah satu e-commerce terbesar di Indonesia. Kira-kira berapa ya kekayaannya?

Media Globe Asia melakukan penelusuran berapa harta Achmad Zaky. Ternyata ia masuk deretan 150 orang terkaya di Indonesia versi media tersebut dengan kekayaan USD 105 juta. Tepatnya, Zaky menempati urutan ke-149.

Perjuangan keras Zaky terbayar sudah. Berawal dari tahun 2010 dengan modal seadanya, BukaLapak kini memiliki ribuan pegawai dan menjadi salah satu tujuan utama masyarakat Indonesia yang ingin berbelanja maupun berjualan di toko online. Dulu, ia harus berusaha keras agar ada yang mau gabung jualan di BukaLapak.

"Waktu kami dari pagi sampai tengah malam habis untuk mengajak berbagai kalangan usaha untuk bergabung Bukalapak. Seringkali kami tidur di garasi kecil kami di bilangan Haji Nawi, Jakarta Selatan. Weekend kami pun diisi dengan membangun Bukalapak, kadang refreshing sebentar ke Pondok Indah Mall, walau cuma bisa lihat-lihat saja, setelah itu balik ke garasi," tuturnya di blog Bukalapak.

Zaky lahir di Sragen pada 24 Agustus 1986. Meski lahir di desa, ia bersyukur orang tuanya mementingkan pendidikan hingga lulus kuliah dari ITB. Di kampus itu, Zaky gemar mengutak atik software, bahkan pernah mendapatkan proyek membuat software quickcount.

"Setelah lulus, saya sejenak pulang kampung. Saya mengamati banyak sekali tetangga saya di kampung yang memiliki usaha kecil, tapi pendapatannya masih sama dengan belasan tahun sebelumnya, padahal ada inflasi. lnilah yang menjadi inspirasi awal pembuatan software lanjutan ini, bagaimana software bisa membuka kesempatan bagi usaha-usaha kecil seperti tetangga saya dan jutaan usaha kecil lainnya, untuk melebarkan sayap dan berkembang lebih besar lagi," paparnya saat memberikan kuliah umum di ITB.

"Perjalanan barupun dimulai, saya mencari nama dan domain. Dari ratusan nama yang saya daftar, terpilihlah Bukalapak. Selain harganya murah, nama ini menggambarkan misi software ini, bahwa siapapun bisa semudah menggelar tikar atau lapak dengan software. Siapapun bisa berbisnis dan menjadi besar lewat internet," tutur Zaky.

Begitulah singkat cerita, Zaky sukses dengan bisnis e-commerce tersebut. BukaLapak sekarang disebut-sebut sebagai salah satu unicorn di Indonesia, sebutan untuk startup dengan nilai minimal USD 1 miliar.

Sumber : Detik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar