Rabu, 03 Juli 2019

Dino Patti Djalal: Isu Jokowi 1 Menit, Medok, dan Ivanka Tak Relevan


Detail sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) di KTT G20 diperhatikan dengan saksama oleh warganet. Sayangnya, detail penyedot perhatian itu dinilai tak terlalu relevan dengan isu penting yang harus dibawa Jokowi. BEST PROFIT

Penilaian ini dikemukakan oleh pendiri lembaga Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal. Konferensi Tingkat Tinggi di Osaka, Jepang, itu dinilainya merupakan KTT paling sulit sepanjang perjalanan G20. Dalam momentum ini, masalah politik dan ekonomi berkelindan tapi minim mufakat di antara pemimpin dunia. 

"Ini benar-benar salah satu KTT G20 yang paling sulit. Artinya, perdebatan mengenai durasi pidato 1 menit Jokowi, mengenai logat medok Jawa, soal Ivanka Trump, itu menjadi tidak relevan," kata Dino kepada wartawan, Rabu (3/7/2019). BESTPROFIT

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini menjelaskan, yang terpenting bagi seorang kepala negara dalam forum itu adalah memperjuangkan kepentingannya. Aspek ramah tamah juga tentu diperhitungkan dengan baik supaya efektif.

"Yang penting adalah misi apa yang diperjuangkan Indonesia di G20," kata Dino. 

Ada 20 kepala negara di forum itu, tak mungkin semuanya dikenai cipika-cipiki. Indonesia perlu menentukan prioritas, bahkan untuk beramah-tamah. Jangan sampai forum penting ini hanya berakhir sebagai ajang foto-foto. Dia berpandangan G20 merupakan forum yang paling berpengaruh dalam ekonomi dunia melebihi forum PBB. 

"Forum ini harus dimanfaatkan untuk menyampaikan suara Indonesia," kata Dino.

Dia menjelaskan, Indonesia perlu memperjuangkan solusi ketegangan ekonomi dunia, dampak dari perang dagang Amerika Serikat vs China. Kedua, Indonesia juga perlu memberi kontribusi solutif terhadap isu proteksionisme. Jangan sampai ekonomi dunia mengarah ke proteksionisme, yakni ideologi bahwa ekonomi dalam negeri harus dilindungi pemerintah terhadap persaingan dari luar negeri. Indonesia juga perlu turut memikirkan penjagaan stabilitas moneter internasional, karena krisis moneter bisa kembali terjadi kapan pun. 

"Selanjutnya, yang sangat penting adalah agenda perubahan iklim. Kalau dua tahun lewat tanpa ada program internasional, dunia akan memanas 2 atau 3 derajat," kata Dino.

Dino Patti Djalal: Isu Jokowi 1 Menit, Medok, dan Ivanka Tak RelevanDino Patti Djalal (Foto: M Zhacky/detikcom) BESTPROFIT FUTURES

Indonesia juga perlu menyikapi tendensi deglobalisasi, yakni sikap ketidakpercayaan terhadap globalisasi. Gejalanya terjadi sejak beberapa tahun lalu, ketika Donald Trump membawa Amerika Serikat (AS) mundur dari Trans-Pacific Partnership (TPP). Semua isu itu dipandangnya penting dan bisa turut mempengaruhi Indonesia.

Bagaimana dengan isu pidato Jokowi yang 1 menit? Atau ada juga yang menafsirkan durasi pertemuan Jokowi dengan Shinzo Abe hanya 1 menit. Isu itu viral di media sosial lewat cuplikan acara televisi Jepang yang diberi narasi bahasa Indonesia oleh warganet. Menurut Dino, durasi ideal pertemuan antarkepala negara atau durasi pidato sangat tergantung konteks.

"Kalau pertemuan bilateral yang dijadwalkan, itu minimal 30 menit untuk pembicaraan yang membahas substansi. Tapi kalau hanya pertemuan 'say hello', biasanya cepat, itu sekadar greeting saja. Dalam pertemuan seperti APEC atau G20, biasanya ada proses seperti itu... tuan rumah memberikan sambutan kilat kepada semua tamu yang hadir," kata Dino.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri RI Febrian Ruddyard menyatakan Jokowi berpidato dua kali di KTT G20 dengan durasi lebih dari 1 menit. Jokowi berpidato dua kali dalam KTT G20 di Osaka, Jepang, yaitu di sesi ketiga dan sesi kedua. Di sesi ketiga, Jokowi bertindak sebagai lead speaker dengan durasi pidato 5 menit, sedangkan di sesi kedua Jokowi berpidato selama 3 menit. Durasi sudah ditentukan oleh Jepang selaku tuan rumah supaya semua pemimpin negara kebagian kesempatan.

Saat ditanya apakah pertemuan Jokowi-Abe hanya sebentar, Febrian membenarkan. Sebenarnya PM Abe dan Presiden Jokowi sepakat untuk melakukan pembicaraan bilateral pada 27 Juni 2019 sore. Namun, mengingat ada kegiatan yang terkait dengan MK, Jokowi baru bisa berangkat ke Osaka pada 27 Juni malam dan tiba pada 28 Juni pagi dan langsung menuju acara G20. Meski pertemuan keduanya berdurasi singkat, ada dua pesan utama yang menjadi pembahasan, yakni mengenai general review IJEPA (Indonesia-Jepang dalam Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement) dan RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership).

Soal bahasa Inggris Jokowi yang dinilai warganet berlogat Jawa, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menanggapi lewat tulisan di Facebook. Luhut saat itu ikut mendampingi Jokowi di KTT G20. Menurutnya, kita tidak harus malu dengan logat asli kita. Kita harus bangga dengan logat yang dimiliki. Logat Jawa itu tidak menjadi halangan bagi Jokowi untuk berbincang dengan pemimpin negara lain, bahkan Ivanka Trump sampai tertawa berbincang bersama Jokowi.

Sebenarnya, Jokowi menerima 17 permintaan pertemuan bilateral dari negara lain dalam KTT G20. Tapi pada akhirnya jumlah pertemuan bilateral itu harus dikurangi karena Jokowi menunggu putusan Mahkamah Konstitusi sebelum bertolak ke Jepang. PT BESTPROFIT

Sumber : Detik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar